2/3/15

Dear Future Husband,

(Karena banyak di ask.fm dan Secret banyak nulis ini tapi ngga pernah ikutan, so, here's mine..)

Hai,

Hmm ini agak awkward ya?
Aku sebenernya bingung mau nulis apa, tapi karena lagi hits aja jadi aku ikut-ikutan.
Itu mungkin alasan kesekian kenapa aku mutusin untuk nulis ini pagi-pagi, right after I woke up.
Kalo aku bikin kamu bete, marah-marah mulu, seandainya kamu nemuin surat ini, tolong kasih ke aku ya hardcopy-nya. Biar aku ngga ngeselin lagi, biar bikin aku malu. Ya? Jadi kita baikan deh.

Aku ngga pernah tau alasan kamu milih aku dari sekian juta wanita lainnya yang kamu temuin pas sekolah, kampus, atau di tempat kerja, atau bahkan wanita yang jauh lebih cantik di mall sana sini, wanita yang lalu lalang depan mata kamu, tapi lucunya, kamu milih aku.
Percaya deh, kalo aku mau hidup sama kamu, berarti kamu udah bikin aku percaya, bahwa komitmen itu ngga semenyeramkan itu. Komitmen untuk jalanin sisa hidupku sama orang lain selain orangtuaku. Komitmen untuk hidup dan meribetkan urusan semua keperluanku dan kamu, oiya, dan anak kita nantinya. Komitmen untuk janji, di depan Allah, semuanya bakal dilaluin sama-sama.

Kamu jangan bosen ya kalo tidur di sebelahku tiap hari. Jangan bosen ya kalo aku masakin makanan kesukaan kamu, dan kemungkinan ayam ungkep selalu sedia di kulkas (karena aku suka ayam goreng). Jangan bosen kalo aku minta jemput di kantor. Tenang aja nanti aku ngga bakal minta uang foya-foya buat aku sendiri, tapi inget ya, uang aku berarti uang aku dan anak-anak, uang kamu ya uang kita sekeluarga. Aku ga minta muluk-muluk, weekend kamu jangan buat kerja ya? Aku juga bakal tinggalin urusan kantor pas weekend. Deal? Oiya, pas subuh kalo bisa kamu imamin aku sholat sama anak-anak. Karena aku tau, maghrib bakal kita habisin di jalan, isya pasti yang penting solat di rumah :-)

Ngomong-ngomong soal anak, aku mau punya anak lebih dari 1. Terserah dikasihnya berapa sama Allah. Aku pernah diramal nanti anakku ada 4-5, banyak banget ya? Nanti kamu pusing ngga kalo kebanyakan? Yaudah, nanti dikurangin, terserah imamku aja maunya gimana.

Ini Nadya yang masih umur 19 tahun, Nadya yang sekarang masih minta apa-apa sama mamanya. Nadya yang sudah menjadi istri kamu kelak, berharap bahwa segala sesuatunya harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan ikhlas. Nadya yang lebih dewasa juga akan lebih menyadari bahwa arti kebersamaan bukan hanya dari jarak pandang terdekat dengan suaminya nanti, tetapi bagaimana kalian bisa memanage suatu hubungan yang baik. Ingat, cinta dan sayang bisa pudar. Nadya pilih kamu karena dia yakin, kamu satu-satunya orang yang bisa mengubah pola pikirnya mengenai komitmen. Tolong, jangan larang dia buat bekerja. Dia hanya ingin yang terbaik buat kamu, dan anak-anaknya. Maaf jikalau nanti dia kurang dewasa dalam beberapa hal, tolong ajari dia seperti apa itu hidup dengan sebaik-baiknya. Tolong ajari bagaimana menjadi istri yang baik, ibu yang bisa jadi panutan anak-anaknya, dan tentu saja, seorang wanita yang pantas di mata orangtua kamu nantinya.

Ingat ya, pernikahan itu bukan permainan. Sekali seumur hidup. Sekali lagi, Nadya yang masih 19 tahun ini ingetin, kalau kamu memilih versi dewasaku nantinya, jangan kapok untuk mengajarkanku banyak hal, karena yang aku punya cuma ilmu. Ilmu untuk anak-anak kita agar menjadi pribadi yang cerdas, (Insha Allah) baik rupawan dan sikapnya. Tapi, tentu saja Nadya versi dewasa ngga akan pernah capek untuk belajar. Untukmu, untuk aku, dan untuk keluarga kita.

Jakarta, February 4th 2015.

Nadya





(And it turned out to be bacotan anak kuliahan yg bntr lagi libur instead of dear future husband)